skip to main | skip to sidebar
  • About Me
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Terms of service

Dunia Flora dan Fauna

Berita | Profil Flora dan Fauna

  • Home
  • News
  • Aneh
  • Unik
  • Langka
  • Daftar Flora
  • Daftar Funa

Kelompok Flora

  • Buah-buahan
  • Rempah
  • Sayur-sayuran
  • Tanaman Hias
  • Tanaman Keras
  • Tanaman Obat
  • Umbi-umbian

Kelompok Fauna

  • Amfibi
  • Burung
  • Ikan
  • Mammalia
  • Reptil (Melata)
  • Serangga

Kategori Wilayah

  • Aceh
  • Amerika
  • Argentina
  • Asia
  • Australia
  • Cina
  • Eropa
  • India
  • Indonesia
  • Iran
  • Jamaika
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Kutub Selatan
  • Laos
  • Meksiko
  • Peru
  • Spanyol
  • Sri Langka
  • Sumatra
  • Turki
  • Vietnam

Jumat, 11 April 2014

Kemang

08.46 No comments
Kemang
kemang

Pohon kemang,
Ragajaya, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Filum: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Anacardiaceae
Genus: Mangifera
Spesies: M. kemanga
Nama binomial
Mangifera kemanga
Blume, 1850

Kemang adalah pohon buah sejenis mangga dengan bau yang harum menusuk dan rasa yang masam manis. Pohon ini berkerabat dekat dan seringkali dianggap sama dengan binjai. Akan tetapi beberapa pakar menyarankan untuk memisahkannya dalam jenis tersendiri, Mangifera kemanga.
Kemang juga dikenal dengan nama lain seperti palong (bahasa Kutai, Kaltim).

Pohon dan buah kemang pada dasarnya memiliki ciri-ciri serupa dengan binjai, dengan beberapa perbedaan.
Perbedaan-perbedaan itu di antaranya, helaian daun kemang hampir duduk (tanpa atau bertangkai amat pendek), tepi daun di pangkal menyempit dan melanjut. Malai bunga kemang lebih panjang (hingga sekitar 75 cm), lebih renggang, dan berisi lebih sedikit kuntum bunga. Buah kemang yang masak coklat agak hijau kusam, berbincul di pangkalnya. Tak seperti binjai, buah kemang yang muda dapat dimakan, meski amat masam rasanya.

Kegunaan dan penyebaran

Sebagaimana binjai, kemang terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan segar setelah buah itu masak atau dijadikan campuran es. Buah kemang juga biasa dijadikan sari buah. Buah kemang yang muda disukai untuk bahan rujak. Demikian pula bijinya, yang dalam keadaan segar diiris-iris dan dimakan setelah dibumbui serta ditambah kecap. Daun kemang yang masih muda (kuncup) digunakan untuk lalap dan kerap dihidangkan di rumah-makan Sunda.
Kemang menyebar secara alami di Sumatra, Kalimantan dan Semenanjung Malaya; dan banyak dibudidayakan di Jawa bagian barat, terutama dekat Bogor. Tumbuhan ini terutama menyebar di dataran rendah di bawah 400 m, jarang hingga 800 m dpl. Jenis ini tahan terhadap penggenangan, dan seringkali didapati tumbuh dekat tepi sungai.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Kamis, 10 April 2014

Kawista

07.26 No comments
Kawista
kawista
Buah kawista
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae
Genus: Limonia
L.
Spesies: L. acidissima
Nama binomial
Limonia acidissima
L.
Kawista (Limonia acidissimasyn.Feronia limonia) adalah kerabat dekat maja dan masih termasuk dalam suku jeruk-jerukan (Rutaceae). Tumbuhan yang dimanfaatkan buahnya ini sudah jarang dijumpai meskipun sekarang beberapa daerah mulai mengembangkannya. Kawista relatif tahan kondisi buruk (kering atau tanah salin) dan tahan penyakit. Asalnya adalah dari India selatan hingga ke Asia Tenggara dan Jawa.
Kawista dapat digunakan sebagai batang bawah bagi jeruk dalam teknik sambung pucuk, namun teknik ini dapat memengaruhi rasa buah jeruk yang dihasilkan. Buah jeruk semacam ini dikenal sebagai "kajer" (dari "kawista" dan "jeruk") dan bisa ditemui di Galis, Madura.
Di Aceh, kawista dikenal dengan nama buah batok. Digunakan sebagai bahan campuran bumbu rujak Aceh dan sirup.
Di Kabupaten Rembang dikembangkan sirup kawista. Rasa mirip cola
Orang Jawa menyebutnya kawis.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Selasa, 08 April 2014

Mangga Kasutri

08.56 No comments
Mangga kasturi
mangga kasutri
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Filum: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
(tidak termasuk) Rosids
Ordo: Sapindales
Famili: Anacardiaceae
Genus: Mangifera
Spesies: M. casturi
Nama binomial
Mangifera casturi
Kosterm.

Mangga kasturi atau Mangifera casturi merupakan buah mangga spesifik Kalimantan Selatan.

Morfologi

Pohon mangga kasturi bisa mencapai tinggi 25 m dengan diameter batang ± 40 – 115 cm. Kulit kayu berwarna putih keabu-abuan sampai coklat terang, kadangkala terdapat retakan atau celah kecil ± 1 cm berupa kulit kayu mati dan mirip dengan Mangifera indica. Daun bertangkai, berbentuk lanset memanjang dengan ujung runcing dan pada kedua belah sisi tulang daun tengah terdapat 12 – 25 tulang daun samping. Daun muda menggantung lemas dan berwarna ungu tua.

Bunga majemuk berkelamin ganda dengan bentuk bunga rasemos dan kerapkali berambut rapat. Panjang tangkai bunga ± 28 cm dengan anak tangkai sangat pendek, yaitu 2 – 4 mm. Daun kelopak bulat telur memanjang dengan panjang 2 – 3 mm. Daun mahkota bulat telur memanjang dan bunga berbau harum. Benang sari sama panjang dengan mahkota, staminodia sangat pendek dan seperti benang sari yang tertancap pada tonjolan dasar bunga.

Buah berbentuk bulat sampai ellipsoid dengan berat kurang dari 80 gram, daging buah kuning atau oranye dan berserabut. Biji batu dengan dinding yang tebal. Mangga ini berbuah pada awal musim hujan atau sekitar bulan Januari.

Varietas

Terdapat tiga varietas Mangifera casturi. Varietas mangga ini dikenal masyarakat Kalimantan Selatan dengan sebutan kasturi, cuban / kastuba dan asem pelipisan / palipisan.
Buah kasturi kenampakannya mirip dengan buah mangga tetapi berukuran kecil, berbentu bulat sampai ellipsoid dengan ukuran panjang 5 – 6 cm, lebar 4 – 5 cm dan berat ± 65,6 gram. Kulit buah tipis dengan warna hijau terang dengan bintik-bintik berwarna gelap dan apabila masak maka kulit buah berubah menjadi kehitaman. Daging buah berwarna oranye gelap, kandungan serat 1,06% dan memiliki rasa yang manis dan lezat. Sifat yang menonjol dari kasturi adalah aroma buah yang harum sehingga banyak disukai masyarakat Kalimantan Selatan.

Mangga cuban berbentuk bulat sampai ellipsoid dengan ukuran panjang 6 – 6,3 cm dan lebar 4,2 – 5,2 cm. Kulit buah berwarna merah mawar dan tidak berwarna hitam penuh bila telah masak. Daging buah berwarna oranye terang, mengandung serat dan tidak beraroma harum seperti buah kasturi.
Asem pelipisan atau palipisan memiliki kenampakan mirip dengan buah kasturi, tetapi tidak menimbulkan aroma harum. Buah berbentuk ellipsoid dengan panjang 6 – 7,2 cm, lebar 3 – 4,4 cam dan berat ± 66,26 gram Warna kulit buah hijau dengan bintik-bintik coklat dan jika telah masak berwarna hijau agak kehitaman serta memiliki banyak getah di bagian bekas batang. Daging buah berwarna kuning oranye dengan kandungan serat ± 1,89%.


Status Mangifera casturi

Dari 31 jenis marga Mangifera yang ditemukan di Kalimantan, 3 jenis diantaranya bersifat endemik. Berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri No. 48 tahun 1989 tentang identitas flora masing-masing provinsi, tumbuhan Mangifera casturi ditetapkan menjadi identitas flora provinsi Kalimantan Selatan.
Mangga kasturi adalah tumbuhan endemik khas Kalimantan Selatan yang keberadaannya terancam punah. Populasi taksonnya cenderung berkurang, baik dalam segi jumlah individu, populasi maupun keanekaragaman genetisnya. Status kelangkaan buah ini dianalisis dengan menggunakan kategori dan kriteria tumbuhan langka menurut IUCN Red List Categories 30 November 1994.
Tim penilai dari World Conservation Monitoring Centre pada tahun 1998 menetapkan Mangifera casturi berada pada kategori punah in situ atauExtinct in the Wild = EW. Mangga ini diketahui hanya hidup dan tumbuh secara alami di kebun hutan dan atau kawasan konservasi lain, namun tidak ditemukan lagi di habitat asli.

Penyebaran Populasi Mangifera casturi

Lokasi penyebaran populasi Mangifera casturi di Desa Mataraman Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar terdapat di kebun campuran. Pada umumnya kebun campuran ini berisi tanaman padi diselingi pohon kasturi yang umurnya sudah lebih dari 50 tahun serta tidak sengaja ditanam oleh penduduk setempat. Kebun ini kebanyakan berada di pekarangan rumah dengan pola tanam tidak teratur. Akan tetapi, data kelimpahan spesies ini tidak diketahui secara pasti.

Kasturi mulai dipanen pada awal musim hujan dan melimpah pada bulan Januari. Selain itu, tanaman buah lain seperti pisang dan rambutan juga mulai dipanen. Karena umur pohon kasturi banyak yang lebih dari 50 tahun, maka produktivitasnya semakin menurun. Oleh karena itu, pada tahun 1980 masyarakat Desa Mataraman mencoba belajar membuat pembibitan buah kasturi.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Jumat, 04 April 2014

Kacang

05.44 No comments
Kacang adalah istilah non-botani yang biasa dipakai untuk menyebut biji sejumlah tumbuhan polong-polongan (namun tidak semua). Dalam percakapan sehari-hari, kacang dipakai juga untuk menyebut buah (polong) atau bahkan tumbuhan yang menghasilkannya. Di Jakarta, kata "kacang" biasanya dimaksudkan untuk polong kacang tanah. Kata ini sebenarnya dipakai untuk menyebut biji kering yang berbentuk menyerupai ginjal dan dimakan setelah dikeringkan.

Pengertian "kacang" tidak sama dengan nut dalam bahasa Inggris, namun lebih dekat dengan pengertian pulse ditambah dengan kedelai, kacang tanah dan sejumlah sayuran legum (kacang panjang).
Kacang biasanya mengandung protein dan/atau lemak yang cukup tinggi, sehingga banyak yang dihargai sebagai bahan pangan yang penting. Biji legum kering yang besar dan mengandung banyak tepung biasanya tidak disebut "kacang", melainkan "kara" atau "koro".
Dalam konteks pangan, "kacang" dipakai pula untuk menyertai nama produk pangan olahan yang biasanya dibuat dari kacang tanah.

Daftar bahan pangan/tumbuhan yang menggunakan kata ini

  • Kacang Arab (Cicer arietinum)
  • Kacang Azuki (Vigna angularis)
  • Kacang Babi (Vicia faba)
  • Kacang Bogor (Vigna subterranea)
  • Kacang Gude (Cajanus cajan)
  • Kacang Hijau (Vigna radiata)
  • Kacang Kapri (Pisum sativum)
  • Kacang Kedelai (lebih umum disebut tanpa "kacang", Glycine)
  • Kacang Kratok (Phaseolus lunatus)
  • Kacang Lima (Phaseolus lunatus kv.)
  • Kacang Mede (bukan legum, Anacardium occidentale )
  • Kacang Merah (Phaseolus vulgaris)
  • Kacang Panjang (Phaseolus vulgaris)
  • Kacang Ercis (Pisum sativum)
  • Kacang Tanah (Arachis hypogaea)
  • Kacang Tunggak/kacang tolo (Vigna unguiculata)
  • Kacang Koro (Canavalia ensiformis)
Sumber : wikipedia.org
Read more »

Rabu, 02 April 2014

Jeruk

07.48 No comments
Jeruk (Citrus)

Penampang lintang buah berbagai jenis jeruk
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Upakelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae
Upafamili: Aurantioideae
Bangsa: Citreae
Genus: Citrus
L.
Spesies dan Hibrida
Spesies budidaya penting:
Citrus aurantifolia – Jeruk Nipis
Citrus maxima – Jeruk Pomelo
Citrus medica – Jeruk Sukade
Citrus reticulata – Jeruk keprok

Hybrida budidaya penting:
Citrus × aurantium – Bitter Orange
Citrus × hystrix – Jeruk Purut
Citrus × latifolia – Persian Lime
Citrus × limon – Jeruk sitrun/Lemon
Citrus × limonia – Rangpur
Citrus × paradisi – Grapefruit
Citrus × sinensis – Jeruk Manis

Jeruk atau limau adalah semua tumbuhan berbunga anggota marga Citrus dari suku Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Anggotanya berbentuk pohon dengan buah yang berdaging dengan rasa masam yang segar, meskipun banyak di antara anggotanya yang memiliki rasa manis. Rasa masam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang menjadi terkandung pada semua anggotanya.

Sebutan "jeruk" kadang-kadang juga disematkan pada beberapa anggota marga lain yang masih berkerabat dalam suku yang sama, seperti kingkit. Dalam bahasa sehari-hari, penyebutan "jeruk" atau "limau" (di Sumatra dan Malaysia) seringkali berarti "jeruk keprok" atau "jeruk manis". Di Jawa, "limau" (atau "limo") berarti "jeruk nipis".

Jeruk sangatlah beragam dan beberapa spesies dapat saling bersilangan dan menghasilkan hibrida antarspesies ('interspecific hybrid) yang memiliki karakter yang khas, yang berbeda dari spesies tetuanya. Keanekaragaman ini seringkali menyulitkan klasifikasi, penamaan dan pengenalan terhadap anggota-anggotanya, karena orang baru dapat melihat perbedaan setelah bunga atau buahnya muncul. Akibatnya tidak diketahui dengan jelas berapa banyak jenisnya. Penelitian-penelitian terakhir menunjukkan adalah keterkaitan kuat Citrus dengan genus Fortunella (kumkuat), Poncirus, serta Microcitrus dan Eremocitrus, sehingga ada kemungkinan dilakukan penggabungan. Citrus sendiri memiliki dua anakmarga (subgenus), yaitu Citrus dan Papeda.

Asal jeruk adalah dari Asia Timur dan Asia Tenggara, membentuk sebuah busur yang membentang dari Jepang terus ke selatan hingga kemudian membelok ke barat ke arah India bagian timur. Jeruk manis dan sitrun (lemon) berasal dari Asia Timur, sedangkan jeruk bali, jeruk nipis dan jeruk purut berasal dari Asia Tenggara.

Banyak anggota jeruk yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan pangan, wewangian, maupun industri. Buah jeruk adalah sumber vitamin C dan wewangian/parfum penting. Daunnya juga digunakan sebagai rempah-rempah.

Pemerian

Pohon kecil, perdu atau semak besar, ketinggian 2-15 m, dengan batang atau ranting berduri panjang tetapi tidak rapat. Daun hijau abadi dengan tepi rata, tunggal, permukaan biasanya licin dan agak berminyak. Bunga tunggal atau dalam kelompok, lima mahkota bunga (kadang-kadang empat) berwarna putih atau kuning pucat, [stamen] banyak, seringkali sangat harum. Buah bertipe "buah jeruk" (hesperidium), semacam buah buni, membulat atau seperti tabung, ukuran bervariasi dengan diameter 2-30cm tergantung jenisnya; kulit buah biasanya berdaging dengan minyak atsiri yang banyak. Hama yang sering menyerang tanaman jeruk adalah kutu daun, ulat Pappilio memnon, Philocnitis, sedangkan penyakit yang sering menyerang adalah embun tepung, embun jelaga, virus keriting.

Jeruk dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0-400 mdpl. Keadaan iklim yang baik bagi tanaman jeruk adalah pada kisaran suhu udara 25°C - 30°C atau rata-rata 20°C, curah hujan tidak lebih dari 100 mm/bulan atau 1200 mm/tahun, kelembaban udara 50 % - 85% dengan minimal 3 bulan kering. Jeruk harus ditanam di tempat terbuka atau mendapat cukup sinar matahari, dan apabila ditanam di dataran tinggi dapat menyebabkan kulit menjadi tebal dan rasa jeruk menjadi pahit. Keadaan tanah yang baik untuk ditanami jeruk adalah tanah yang gembur, memiliki kandungan bahan organik yang tinggi, memiliki aerasi dan drainase yang baik, dengan nilai kemasaman (pH) 6-7.

Buah dan daunnya dimanfaatkan orang sebagai penyedap atau komponen kue/puding. Aroma yang khas berasal dari sejumlah flavonoid dan beberapa terpenoid. "Daging buah" mengandung banyak asam sitrat (harafiah: "asam jeruk") yang memberikan rasa masam yang tajam tetapi segar.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Senin, 31 Maret 2014

Empat Owa Jawa Dilepaskan di Gunung Malabar

06.16 No comments

Bandung - Hewan primata Owa Liar akhirnya dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, Kamis (27/3/2014). Pelepasliaran tersebut mendapat sambutan baik dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Perum Perhutani dan Yayasan Owa Jawa (YOJ) melepasliarkan empat owa jawa (Hylobates moloch) ke habitat alami di kawasan Puntang, hutan lindung Gunung Malabar, Bandung, Jawa Barat.

Owa jawa bernama Bombom (betina), Jowo (jantan), Yani (betina) dan Yudi (jantan) itu merupakan hewan peliharaan masyarakat yang sudah menjalani rehabilitasi selama enam tahun di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa di Resort Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis, Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengatakan pemilihan lokasi pelepasliaran dilakukan berdasarkan serangkaian survei kelayakan habitat untuk memastikan ketersediaan pohon pakan dan keamanan owa jawa.

Pelepasliaran owa jawa itu merupakan bagian dari upaya konservasi owa jawa dan pemeliharaan hutan lindung di Gunung Malabar.

"Konservasi owa jawa juga dimaksudkan untuk mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung dengan pengembangan spesies liar sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga," katanya.

Ketua Pengurus Yayasan Owa Jawa Noviar Andayani menggarisbawahi bahwa upaya konservasi primata, khususnya owa jawa, tidak mudah karena habitatnya sudah banyak yang hilang akibat pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan.

Selain itu owa jawa kerap ditangkap untuk diperjualbelikan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Wawan Ridwan yang hadir dalam pelepasan tersebut memberikan apresiasi pelepasliaran hewan primata tersebut. Owa yang dilepasliarkan satu keluarga bernama Bom-Bom, Jowo, Yani, dan Yudi.

"Pelepasliaran Owa Jawa ini menjadi salah satu bukti adanya kesadaran dan langkah nyata bagi kita semua dalam upaya rehabilitasi dan konservasi fauna. Selain itu sebagai momentum dari wujud tanggung jawab kita dalam pelestarian keanekaragaman hayati khususnya di Jawa Barat," tutur Wawan.

Owa Jawa merupakan jenis primata yang tidak berekor dari keluarga Owa (Famili Hylobatidae) yang ditemukan di Pulau Jawa dan terancam punah. Hutan hujan tropis Pulau Jawa yang menjadi tempat hidupnya semakin berkurang drastis di bawah tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi manusia yang semakin meningkat.

Maka dari itu, kawasan hutan lindung Gunung Malabar dipilih sebagai tempat pelepasliaran Owa Jawa setelah melalui serangkaian survei kelayakan habitat untuk memastikan ketersediaan pohon pakan dan keamanannya. Kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani tersebut diharapkan dapat menjadi rumah yang aman bagi Owa Jawa di tengah maraknya ancaman perburuan dan kerusakan di Pulau Jawa saat ini.

Wawan berharap upaya pelestarian terhadap ancaman populasi dan habitatnya karena Owa jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa yang penyebarannya sangat terbatas.

"Harus ada proses penyadaran bagi masyarakat untuk tidak memperdagangkan, memburu, dan memelihara Owa Jawa," tutupnya.

Organisasi konservasi (International Union for Conservation of Nature/IUCN) memasukkan owa jawa ke dalam kategori spesies terancam punah dengan peluang kepunahan 50 persen.

Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center/JGC) telah menerima 30 owa jawa dari masyarakat.

Owa jawa-owa jawa itu menjalani pemulihan kesehatan dan pengembalian perilaku alami setelah dipelihara manusia dalam kandang.

Sebagian besar owa jawa yang pernah menjadi hewan peliharaan bahkan tidak mampu mengeluarkan nyanyian panjang saat pertama kali tiba di JGC, padahal kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk menandai daerah tempat tinggalnya di alam. 

Kemampuan bersuara, bergerak di atas pohon, dan bersosialisasi dengan owa jawa lain yang hilang juga dipulihkan lagi.
Sumber : http://www.inilahkoran.com, http://www.antaranews.com
Read more »

Minggu, 30 Maret 2014

Jambu Air

10.01 No comments
Jambu Air
jambu
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus: Syzygium
Spesies: S. aqueum
Nama binomial
Syzygium aqueum
(Burm.f.) Alston, 1929

Jambu air adalah tumbuhan dalam suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari Asia Tenggara. Jambu air sebetulnya berbeda dengan jambu semarang (Syzygium samarangense), kerabat dekatnya yang memiliki pohon dan buah hampir serupa. Beberapa kultivarnya bahkan sukar dibedakan, sehingga kedua-duanya kerap dinamai dengan nama umum jambu air atau jambu saja. 

Nama-nama lainnya adalah jambu ayer mawar (Malaysia), jambu aie (Minangkabau.), jambu cai (Sunda.), jambu wer (Jawa.), jhambhu wir (Madura.), nyambu er (Bali.), kumpas, kumpasa, kombas, kembes (bahasa-bahasa di Sulawesi Utara), jambu jene, jambu salo (Sulawesi Selatan), jambu waelo, kuputol waelo, lutune waele, kopo olo (aneka bahasa di Seram dan sekitarnya), dan lain-lain. Juga jambu kancing (Indonesia.), untuk kultivar yang buahnya kecil-kecil.
Di negara-negara lain, jambu ini dikenal sebagai machom phupa atau chomphu pa (Thailand), tambis (Filipina.), bell fruit, water apple (Inggris.) dan lain-lain.

Pemerian botanis

Umumnya bagian-bagian tumbuhan jambu air berukuran lebih kecil dan kurang berbau aromatis apabila dibandingkan dengan jambu semarang. Perhatikan uraian bagian-bagian yang ditulis miring, terutama bunga dan buahnya.

Jambu air umumnya berupa perdu, dengan tinggi 3-10 m. Sering dengan batang bengkak-bengkok dan bercabang mulai dari pangkal pohon, kadang-kadang gemangnya mencapai 50 cm.
Daun tunggal terletak berhadapan, bertangkai 0,5-1,5 cm. Helaian daun berbentuk jantung jorong sampai bundar telur terbalik lonjong, 7-25 x 2,5-16 cm, tidak atau sedikit berbau aromatis apabila diremas.
Karangan bunga dalam malai di ujung ranting (terminal) atau muncul di ketiak daun yang telah gugur (aksial), berisi 3-7 kuntum. Bunga kuning keputihan, dengan tabung kelopak lk. 1 cm panjangnya; daun mahkota bundar sampai menyegitiga, 5-7 mm; benang sari antara 0,75-2 cm dan tangkai putik yang mencapai 17 mm.

Buah bertipe buah buni, berbentuk gasing dengan pangkal kecil dan ujung yang sangat melebar (sering dengan lekukan sisi yang memisahkan antara bagian pangkal dengan ujung); 1,5-2 x 2,5-3,5 cm; bermahkota kelopak yang berdaging dan melengkung; sisi luar berwarna putih sampai merah. Daging buah putih, banyak berair, hampir tidak beraroma; berasa asam atau asam manis, kadang-kadang agak sepat. Biji berukuran kecil, 1-2(-6) butir.

Kegunaan

Jambu air, seperti halnya jambu semarang dan jambu bol, biasa disajikan sebagai buah meja. Ketiga jenis jambu ini memiliki pemanfaatan yang kurang lebih serupa dan dapat saling menggantikan. Buah-buah ini umumnya dimakan segar, atau dijadikan sebagai salah satu bahan rujak. Aneka jenis jambu ini juga dapat disetup atau dijadikan asinan.
Kayunya yang keras dan berwarna kemerahan cukup baik sebagai bahan bangunan, asalkan tidak kena tanah. Hanya biasanya ukurannya terlalu kecil. Baik pula digunakan sebagai kayu bakar.
Di daerah Kuningan, daun jambu air biasa digunakan sebagai pembungkus tape ketan. Tape Kuningan terkenal manis dan banyak berair.

Asal usul dan penyebaran

Asal usul pohon buah ini tidak diketahui dengan pasti, namun diperkirakan dari wilayah Asia Tenggara. Sejak dahulu tanaman ini telah dipelihara sebagai pohon buah-buahan di kawasan ini, mulai dari wilayah Indocina hingga ke bagian timur Nusantara.

Sumber : wikipedia.org
Read more »
Postingan Lama

Popular Posts

  • Kacang
    Kacang adalah istilah non-botani yang biasa dipakai untuk menyebut biji sejumlah tumbuhan polong-polongan (namun tidak semua). Dalam perc...
  • Mangga Kasutri
    Mangga kasturi Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Filum: Tracheophyta Kelas: Magnoliopsida (tidak termasuk) Ro...
  • Apel
    Apel Pohon apel ( Malus domestica ) Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsid...
  • Fauna
    Fauna , dari bahasa Latin, atau alam hewan artinya adalah khazanah segala macam jenis hewan yang hidup di bagian tertentu atau periode tert...
  • Penguin
    Penguin Rentang fosil: Paleosen-sekarang Gentoo Penguin, Pygoscelis papua Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Animalia Fil...

Kategori

  • Animalia
  • Apel
  • Apokat
  • Belimbing
  • Buah-buahan
  • Burung
  • Cermai
  • Delima
  • Durian
  • Fauna
  • Flora
  • Gayam
  • Jagung
  • Jamblang
  • Jambu
  • Jeruk
  • Kacang
  • Kawista
  • Kemang
  • Mammalia
  • Mangga
  • Mangga Kasutri
  • News
  • Owa Jawa
  • Penguin
  • Rusa

Followers

 
Copyright © 2014 Dunia Flora dan Fauna | Powered by Blogger
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls