skip to main | skip to sidebar
  • About Me
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Terms of service

Dunia Flora dan Fauna

Berita | Profil Flora dan Fauna

  • Home
  • News
  • Aneh
  • Unik
  • Langka
  • Daftar Flora
  • Daftar Funa

Kelompok Flora

  • Buah-buahan
  • Rempah
  • Sayur-sayuran
  • Tanaman Hias
  • Tanaman Keras
  • Tanaman Obat
  • Umbi-umbian

Kelompok Fauna

  • Amfibi
  • Burung
  • Ikan
  • Mammalia
  • Reptil (Melata)
  • Serangga

Kategori Wilayah

  • Aceh
  • Amerika
  • Argentina
  • Asia
  • Australia
  • Cina
  • Eropa
  • India
  • Indonesia
  • Iran
  • Jamaika
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Kutub Selatan
  • Laos
  • Meksiko
  • Peru
  • Spanyol
  • Sri Langka
  • Sumatra
  • Turki
  • Vietnam

Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

Empat Owa Jawa Dilepaskan di Gunung Malabar

06.16 No comments

Bandung - Hewan primata Owa Liar akhirnya dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, Kamis (27/3/2014). Pelepasliaran tersebut mendapat sambutan baik dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Perum Perhutani dan Yayasan Owa Jawa (YOJ) melepasliarkan empat owa jawa (Hylobates moloch) ke habitat alami di kawasan Puntang, hutan lindung Gunung Malabar, Bandung, Jawa Barat.

Owa jawa bernama Bombom (betina), Jowo (jantan), Yani (betina) dan Yudi (jantan) itu merupakan hewan peliharaan masyarakat yang sudah menjalani rehabilitasi selama enam tahun di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa di Resort Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis, Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengatakan pemilihan lokasi pelepasliaran dilakukan berdasarkan serangkaian survei kelayakan habitat untuk memastikan ketersediaan pohon pakan dan keamanan owa jawa.

Pelepasliaran owa jawa itu merupakan bagian dari upaya konservasi owa jawa dan pemeliharaan hutan lindung di Gunung Malabar.

"Konservasi owa jawa juga dimaksudkan untuk mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung dengan pengembangan spesies liar sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga," katanya.

Ketua Pengurus Yayasan Owa Jawa Noviar Andayani menggarisbawahi bahwa upaya konservasi primata, khususnya owa jawa, tidak mudah karena habitatnya sudah banyak yang hilang akibat pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan.

Selain itu owa jawa kerap ditangkap untuk diperjualbelikan.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Wawan Ridwan yang hadir dalam pelepasan tersebut memberikan apresiasi pelepasliaran hewan primata tersebut. Owa yang dilepasliarkan satu keluarga bernama Bom-Bom, Jowo, Yani, dan Yudi.

"Pelepasliaran Owa Jawa ini menjadi salah satu bukti adanya kesadaran dan langkah nyata bagi kita semua dalam upaya rehabilitasi dan konservasi fauna. Selain itu sebagai momentum dari wujud tanggung jawab kita dalam pelestarian keanekaragaman hayati khususnya di Jawa Barat," tutur Wawan.

Owa Jawa merupakan jenis primata yang tidak berekor dari keluarga Owa (Famili Hylobatidae) yang ditemukan di Pulau Jawa dan terancam punah. Hutan hujan tropis Pulau Jawa yang menjadi tempat hidupnya semakin berkurang drastis di bawah tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi manusia yang semakin meningkat.

Maka dari itu, kawasan hutan lindung Gunung Malabar dipilih sebagai tempat pelepasliaran Owa Jawa setelah melalui serangkaian survei kelayakan habitat untuk memastikan ketersediaan pohon pakan dan keamanannya. Kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani tersebut diharapkan dapat menjadi rumah yang aman bagi Owa Jawa di tengah maraknya ancaman perburuan dan kerusakan di Pulau Jawa saat ini.

Wawan berharap upaya pelestarian terhadap ancaman populasi dan habitatnya karena Owa jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa yang penyebarannya sangat terbatas.

"Harus ada proses penyadaran bagi masyarakat untuk tidak memperdagangkan, memburu, dan memelihara Owa Jawa," tutupnya.

Organisasi konservasi (International Union for Conservation of Nature/IUCN) memasukkan owa jawa ke dalam kategori spesies terancam punah dengan peluang kepunahan 50 persen.

Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center/JGC) telah menerima 30 owa jawa dari masyarakat.

Owa jawa-owa jawa itu menjalani pemulihan kesehatan dan pengembalian perilaku alami setelah dipelihara manusia dalam kandang.

Sebagian besar owa jawa yang pernah menjadi hewan peliharaan bahkan tidak mampu mengeluarkan nyanyian panjang saat pertama kali tiba di JGC, padahal kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk menandai daerah tempat tinggalnya di alam. 

Kemampuan bersuara, bergerak di atas pohon, dan bersosialisasi dengan owa jawa lain yang hilang juga dipulihkan lagi.
Sumber : http://www.inilahkoran.com, http://www.antaranews.com
Read more »

Jumat, 07 Maret 2014

Fauna

07.57 No comments
Fauna, dari bahasa Latin, atau alam hewan artinya adalah khazanah segala macam jenis hewan yang hidup di bagian tertentu atau periode tertentu. Istilah yang sejenis untuk tumbuhan adalah flora/nabatah. Nabatah, alam hewan dan bentuk kehidupan lain seperti fungi dalam suatu kesatuan disebut biota. Penulisan nabatah dan alam hewan biasanya ditulis di depan nama geografis, misalnya alam hewan peralihan, alam hewan Asia atau alam hewan Australia.

Subdivisi fauna

Epifauna

Epifauna adalah hewan yang hidup di atas permukaan sedimen atau tanah.

Infauna

Infauna adalah hewan akuatik yang hidup di dasar substratum, bukan di permukaannya. Biasanya, hewan infauna semakin jarang ditemukan seiring bertambahnya kedalam air dan jaraknya dari garis pantai.

Microfauna

Microfauna adalah hewan mikroskopik atau sangat kecil (biasanya termasuk hewan-hewan protozoa dan hewan yang sangat kecil, seperti rotifera).

Makrofauna

Macrofauna adalah organisme darat atau laut yang panjang tubuhnya lebih dari atau sama dengan satu milimeter.

Megafauna

Megafauna adalah hewan besar pada tempat dan zaman tertentu. Misalnya, megafauna Australia.

Meiofauna

Meiofauna adalah hewan invertebrata perairan berukuran kecil yang hidup di air tawar dan air laut (asin). Istilah Meiofauna diartikan sebagai kumpulan organisme yang lebih besar dari mikrofauna, tetapi lebih kecil dari makrofauna. Organisme ini bisa melewati saringan berukuran 1 mm, tapi tidak dapat melewati saringan berukuran 45 μm (ukuran dapat berbeda-beda berdasarkan researcher).

Mesofauna

Mesofauna adalah hewan invertebrata daratan berukuran besar, seperti arthropoda, cacing tanah, and nematoda.

Lain-Lain

Meliputi avifauna, yang berarti "fauna unggas" dan piscifauna (atau ichthyofauna), yang berarti "fauna ikan".

Persebaran Fauna di Dunia

Wilayah persebaran fauna pertama kali diperkenalkan oleh Sclater (1858) dan kemudian dikembangkan oleh Huxley (1868) dan Wallace (1876). Ada beberapa faktor alam yang mempengaruhi persebaran fauna di dunia yang bersifat menghambat, yaitu faktor-faktor fisik yang berhubungan dengan keadaan di bumi, misalnya perairan (sungai, danau, laut), daratan (gunung, lembah, jurang, padang pasir, dll), iklim (suhu, tekanan udara, kelembaban, dll). Alfred Russel Wallace mengelompokkan persebaran fauna di dunia menjadi 6 wilayah, yaitu:

Zona Australis

Wilayah ini mencakup kawasan Australia, Selandia baru, Papua, Maluku, dan pulau-pulau sekitarnya. Beberapa hewan khas wilayah ini adalah kanguru, kiwi, koala, platipus, terdapat juga beberapa jenis burung yang khas wilayah ini seperti burung cendrawasih, kasuari, kakatua, dan kelompok reptil antara lain buaya, kura-kura, ular piton.

Zona Ethiopian

Wilayah persebarannya meliputi benua Afrika dari sebelah selatan Gurun Sahara, Madagaskar, dan Asia Barat. Hewan yang khas daerah ini adalah gajah afrika, badak afrika, gorila, babon, simpanse, jerapah, mamalia padang rumput seperti zebra, antilope, kijang, singa, dan mamalia pemakan serangga yaitu trenggiling. Mamalia endemik di wilayah ini adalah kuda nil yang hanya terdapat di sungai Nil, Mesir. Namun di Madagaskar juga terdapat kuda nil namun lebih kecil. Wilayah Ethiopian juga memiliki hewan yang hampir sama dengan di wilayah Oriental seperti golongan kucing, bajing, tikus, babi hutan, kelelawar, dan anjing.

Zona Neartik

Wilayah persebarannya meliputi kawasan Amerika Serikat, Amerika Utara dekat Kutub Utara, dan Greenland. Hewan khas daerah ini adalah kalkun liar, tikus berkantung, bison, muskox, caribou, domba gunung. Di daerah ini juga terdapat beberapa jenis hewan yang ada di wilayah Paleartik seperti kelinci, kelelawar, anjing, kucing, dan bajing.

Zona Neotropik

Wilayah persebarannya meliputi kawasan Amerika Selatan, dan sebagian besar Meksiko. Iklim di wilayah ini sebagian besar beriklim tropis dan bagian selatan beriklim sedang. Hewan endemiknya ikan piranha dan belut listrik di sungai Amazon, ilama (sejenis unta) di padang pasir Atacama (Peru), tapir, dan kera hidung merah. Neotropikal sangat terkenal sebagai wilayah fauna vertebrata karena jenisnya yang sangat beragam dan spesifik seperti beberapa jenis monyet, trenggiling, beberapa jenis reptil seperti buaya, ular, kadal, beberapa spesies burung dan ada sejenis kelelawar penghisap darah.

Zona Asiatis

Tersebar di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Fauna Indonesia yang masuk di wilayah ini hanya di Indonesia bagian barat. Hewan yang khas ini adalah harimau, orang utan, gibon, rusa, banteng, dan badak bercula satu. Hewan lainnya adalah badak bercula dua, gajah, beruang, antilope, berbagai jenis reptil, dan ikan. Adanya jenis hewan yang hampir sama dengan wilayah Ethiopian antara lain kucing, anjing, monyet, gajah, badak, dan harimau.

Zona Paleartik

Wilayah persebarannya sangat luas meliputi hampir seluruh benua Eropa, Rusia, daerah sekitar kutub utara sampai pegunungan Himalaya, kepulauan Inggris di Eropa Barat sampai Jepang, Selat Bering di pantai Pasifik dan benua Afrika paling utara. Beberapa jenis fauna paleartik yang tetap bertahan di lingkungan aslinya yaitu, panda di cina, unta di afrika utara, binatang kutub seperti rusa, kucing kutub, beruang kutub. Binatang yang berasal dari wilayah ini antara lain, kelinci, berbagai spesies anjing, kelelawar, bajing dan kijang telah menyebar ke wilayah lain.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Minggu, 02 Maret 2014

Rusa bawean

06.12 No comments
Rusa bawean
Seekor rusa bawean jantan dewasa di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Status konservasi
Kritis (IUCN 3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Upaordo: Ruminantia
Famili: Cervidae
Upafamili: Cervinae
Genus: Axis
Spesies: A. kuhlii
Nama binomial
Axis kuhlii
Müller, 1840

Rusa bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean di tengah Laut Jawa, Secara administratif pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Spesies ini tergolong langka dan diklasifikasikan sebagai "terancam punah" oleh IUCN. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 300 ekor di alam bebas. Rusa Bawean hidup dalam kelompok kecil yang biasanya terdiri atas rusa betina dengan anaknya atau jantan yang mengikuti betina untuk kawin. Mereka tergolong hewan nokturnal atau aktif mencari makan di malam hari.

Fisik

Tinggi rusa bawean jantan dilaporkan sekitar 60-70 cm. Panjang ekor 20 cm. Panjang dari kepala dan tubuh 140 cm. Bobot dewasa 50-60 kg. Rusa ini berwarna coklat. Pejantannya memiliki tanduk bercabang tiga yang dapat tumbuh sepanjang 25-47 cm. Tanduk ini dipergunakan pejantan untuk memenangkan betina di musim kawin.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Penguin Adélie

06.03 No comments
Adélie Penguin
Penguin Adélie
Status konservasi
Penguin Adélie
Risiko Rendah (IUCN 3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Ordo: Sphenisciformes
Famili: Spheniscidae
Genus: Pygoscelis'
Nama binomial
Pygoscelis adeliae
(Hombron & Jacquinot, 1841)
Penguin Adelie adalah spesies penguin yang umum di sepanjang pantai Antartika secara keseluruhan. Distribusi mereka berada di paling selatan pantai Antartika di antara penguin kaisar (Aptenodytes forsteri), skua kutub (Stercorarius maccormicki), petrel badai wilson (Oceanites oceanicus), dan petrel salju (Pagodroma nivea). Adapun burung ini ditemukan pada 1840 oleh penjelajah Perancis, yaitu Jules Dumont d'Urville. Ia menamai penguin ini untuk istrinya, Adéle.


Taksonomi

Penguin Adélie adalah salah satu dari tiga spesies dalam genus pygoscelis. Bukti Mitokondria dan nuklir DNA menunjukkan bahwa genus ini berpisah dari penguin lainnya 38 juta tahun yang lalu, sekitar 2 juta tahun setelah dari nenek moyang dari genus Aptenodytes. Pada gilirannya, penguin Adelie memisahkan diri dari anggota lain dari genus 19 juta tahun yang lalu.

Deskripsi

Panjang mereka 25 inci (70 cm) dan beratnya antara 4-5,5 kilogram. Bulu di bagian belakang kepala yang agak memanjang yang bertumbuh apabila sudah dewasa menjadi jambul. Penguin yang belum 14 bulan, tidak memiliki dagu hitam, dan juga cincin putih di sekitar matanya.

Makanan

Penguin Adélie makan kril, cumi-cumi, dan ikan. Mereka dapat menyelam hingga 575 kaki (175 m) untuk mencari makan. Paruh mereka agak gemuk, tapi tepiannya kasar, salah satu kegunaannya adalah untuk menangkap ikan yang licin. Badan mereka memang khusus dirancang untuk berburu. Ilmuwan percaya bahwa penguin adélie makan lebih sedikit pada musim dingin daripada musim lainnya. Mangsanya adalah singa laut, skua, dan terkadang, paus pembunuh.

Perkembangbiakan

Penguin Adelie tiba di alasan mereka berkembang biak pada bulan Oktober atau November, pada akhir musim dingin dan awal musim semi. Pada bulan Desember, bulan terpanas di Antartika (sekitar -2 ° C), orang tua bergiliran mengerami telur, satu pergi untuk memberi makan dan yang lain tetap lainnya untuk menghangatkan telur. Para orangtua yang mengerami tidak makan. Pada bulan Maret, orang dewasa dan kembali muda mereka ke laut. Penguin Adelie hidup di es laut tetapi perlu tanah bebas es untuk berkembang biak. Dengan penurunan es laut dan kelangkaan makanan, populasi penguin Adelie sudah turun 65% selama 25 tahun terakhir. .

Migrasi

Penguin Adélie hidup di Laut Ross di kawasan Antartika dan bermigrasi rata-rata sekitar 13.000 kilometer selama tahun saat mereka mengikuti matahari dari koloni mereka untuk alasan musim dingin mencari makan dan kembali lagi. Perjalanan mereka yang terpanjang telah tercatat hingga 17.600 kilometer. Penguin Adélie sering tersesat juga, ini disebabkan karena mereka menjadikan matahari sebagai pedoman. Jadi apabila malam tiba, terkadang penguin jenis ini tersesat.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Sabtu, 01 Maret 2014

Penguin Kaisar

11.15 No comments
Penguin Kaisar
penguin kaisar
Status konservasi
penguin kaisar
Risiko Rendah (IUCN 3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Sphenisciformes
Famili: Spheniscidae
Genus: Aptenodytes
Spesies: A. forsteri
Nama binomial
Aptenodytes forsteri
Gray, 1844
penguin kaisar
Habitat Penguin Kaisar
Koloni berkembang biak berwarna hijau

Penguin kaisar yang mempunyai nama latin Aptenodytes forsteri, termasuk jenis yang terbesar di antara famili penguin, yaitu dengan tinggi badan mencapai lebih dari 1 meter dan bobot lebih dari 35 kg. Sama seperti jenis penguin lainnya, penguin kaisar juga memiliki kaki yang berjaring dan bulu tebal di seluruh tubuhnya yang kedap air, dan merupakan spesies burung yang tidak dapat terbang.
Penguin kaisar dideskripsikan pada tahun 1844 oleh zoolog Inggris George Robert Gray.
Namun ciri yang paling terlihat untuk membedakan penguin kaisar dengan jenis penguin lain adalah garis kuning samar pada bagian lehernya. Berbeda dengan penguin raja, di mana garis kuning pada leher penguin ini lebih mencolok dan membentuk lengkungan tegas di lehernya daripada Penguin kaisar.

Tempat Tinggal

Populasi Penguin kaisar hanya terdapat di Benua Antartika - kutub selatan bumi, merupakan daerah terdingin di belahan dunia paling selatan dengan suhu terendah mencapai -73° celcius. Mereka bersarang di sepanjang wilayah tepi pantai benua Antartika.
Penguin kaisar dapat bertahan hidup di suhu dingin tersebut karena lapisan lemak setebal 2-3 cm pada tubuhnya berguna untuk menyimpan panas dan memisahkan udara dingin dari luar.

Makanan

Makanan utama penguin kaisar adalah ikan, udang, dan cumi-cumi. Anatomi sayap yang pendek memungkinkan penguin jenis ini untuk berenang hingga sejauh 15 km dan menyelam sampai pada kedalaman 900 kaki selama 18 menit. Oleh karena itu, ikan yang dimakannya lebih besar daripada yang dimakan oleh penguin-penguin dengan ukuran tubuh lebih kecil.

Reproduksi

Periode masa kawin pada penguin kaisar terjadi sepanjang tahun pada bulan Juni-Agustus. Penguin jantan dewasa akan mengepak-kepakan sayap untuk menarik perhatian betinanya, kemudian ketika mereka sudah menemukan satu pasangan yang tepat keduanya akan membuat ikatan dengan cara saling menepukan sayap di bagian belakang leher. Penguin adalah spesies burung yang setia pada satu pasangan.
Setelah mengalami masa kawin, penguin betina akan bertelur dan telur dari penguin kaisar berbentuk seperti buah pir. Masa mengerami adalah tugas dari penguin jantan, selama kurang lebih 3 bulan, telur akan dierami di atas kaki penguin dan dilindungi oleh bagian bawah perut mereka. Kemudian penguin-penguin jantan tersebut akan membentuk koloni besar untuk menjaga suhu telur tetap hangat, sementara penguin betina secara berkelompok akan pergi hingga sejauh 90 mil untuk mengumpulkan makanan.
Ketika telur menetas, penguin jantan yang telah dibekali cadangan makanan akan menjaga anak mereka sampai sang ibu kembali.Begitu pula sebaliknya, saat penguin betina kembali untuk mengurus bayi penguin, penguin jantan pun pergi untuk mencari makan, terus-menerus secara bergantian hingga 13 bulan lamanya dan bayi penguin tumbuh menjadi penguin yang mandiri.

Habitat

Terdapat 40 koloni pertangkaran di sekitar Antartika, dan dalam satu koloni tersebut masing-masing berjumlah hingga 10.000 ekor Penguin Kaisar dewasa. Koloni ini akan terus bersama-sama dan saling menghangatkan satu sama lain dengan cara berdiri saling berimpitan, terutama ketika penguin jantan sedang mengerami telur. Pada bulan Januari-Februari, penguin akan bermigrasi ke arah selatan bumi untuk mencari makanan.
Bayi penguin tidak pernah diajarkan cara berenang, menyelam ataupun berburu oleh orangtuanya. Secara otomatis, penguin akan beradaptasi dengan sendirinya untuk bertahan hidup. Jika mereka lelah berjalan, penguin-penguin akan meluncur di atas es menggunakan bagian dadanya.
Populasi penguin kaisar bergantung pada jumlah ikan yang ada di laut, jika penangkapan ikan oleh manusia terus dilakukan secara besar-besaran maka populasi penguin pun dapat berkurang jumlahnya. Secara umum penguin tidak memiliki banyak musuh, singa laut adalah musuh utama mereka. Akan tetapi dengan kelincahan mereka di dalam air, penguin dapat dengan mudah menghindarinya.

Fakta

1. Tidak ada seorang pun tahu secara pasti dari mana penguin mendapatkan namanya, tetapi kemungkinan berasal dari bahasa latin pinguis yang berarti gemuk.
2. Nenek moyang penguin telah hidup sejak 60 juta tahun yang lalu di zaman prasejarah, yaitu waimanu.
3. Penguin kaisar memiliki penglihatan yang sangat bagus sehingga memungkinkan dia untuk melihat di dalam kedalaman laut yang gelap.
4. Semua spesies penguin tidak memiliki gigi, mereka menangkap ikan dengan paruhnya yang tajam dan kemudian langsung ditelannya.
5. Jumlah populasi penguin telah menurun 50% selama kurun waktu 50 tahun terakhir. Penyebab utamanya justru karena berkurangnya luas wilayah yang tertutup es di Antartika karena pemanasan global.

Sumber : wikipedia.org
Read more »

Penguin

10.55 No comments
Penguin
Rentang fosil: Paleosen-sekarang
penguin
Gentoo Penguin, Pygoscelis papua
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Infrakelas: Neognathae
Ordo: Sphenisciformes
Sharpe, 1891
Famili: Spheniscidae
Bonaparte, 1831


Penguin atau pinguin (ordo Sphenisciformes, famili Spheniscidae) adalah hewan akuatik jenis burung yang tidak bisa terbang dan secara umum hidup di belahan Bumi selatan.
Di seluruh dunia terdapat 16 spesies penguin tergantung pada apakah dua spesies Eudyptula dihitung juga sebagai spesies. Walaupun seluruh jenis penguin awalnya berasal dari belahan bumi selatan, namun penguin tidak hanya ditemukan di daerah dingin atau di Antartika saja. Terdapat tiga spesies penguin yang hidup di daerah tropis. Salah satu spesies hidup di Kepulauan Galapagos (Penguin Galapagos) dan biasanya menyeberangi garis khatulistiwa untuk mencari makan.
Spesies penguin terbesar adalah Penguin Kaisar (Aptenodytes forsteri) dengan tinggi mencapai 1,1 meter dan berat 35 kilogram atau lebih.
Spesies penguin terkecil adalah Penguin Peri (Eudyptula Minor) dengan tinggi sekitar 40 cm dan berat satu kg. Secara umum, penguin yang berukuran besar lebih dapat mempertahankan suhu tubuhnya sehingga dapat bertahan di daerah dingin, sementara penguin yang berukuran lebih kecil biasanya ditemukan di daerah yang lebih hangat bahkan daerah tropis.
Umumnya penguin memakan krill (sejenis udang), ikan, cumi-cumi dan hewan air lainnya yang tertangkap ketika berenang di laut dengan paruhnya. Penguin dapat meminum air laut karena kelenjar supraorbital pada tubuhnya menyaring kelebihan garam laut dari aliran darah. Garam ini lalu dikeluarkan dalam bentuk cairan lewat saluran pernapasan penguin.
Penguin terlihat tidak takut dengan kehadiran manusia. Mereka akan mendekat pada kelompok peneliti yang sedang mempelajari mereka.
Namun satu bentuk pertengkaran besar antar penguin akan terjadi jika seekor ibu penguin kehilangan anaknya (karena tidak bisa bertahan dalam badai besar atau dimakan oleh hewan pemangsa). Jika seekor anak hilang, maka ibu penguin akan "mencuri" seekor anak penguin dari ibu penguin yang lain. Tingkah laku ini menarik perhatian ilmuwan. Menariknya, penguin-penguin betina lain dalam kelompok penguin tersebut tidak menyukai "pencurian" ini dan akan menolong dan "membela" ibu penguin yang anaknya dicuri.
Tubuh penguin sangat sesuai untuk berenang dan hidup di air. Sayapnya merupakan pendayung dan tidak mampu untuk terbang. Di daratan penguin menggunakan ekor dan sayapnya untuk menjaga keseimbangan ketika berjalan.
Setiap penguin memiliki warna putih di sebelah dalam tubuhnya dan warna gelap (biasanya hitam) di sebelah luar tubuh. Hal ini berguna untuk kamuflase. Hewan pemangsa seperti singa laut dari dalam air akan sulit untuk melihat penguin karena perutnya yang berwarna putih bercampur dengan pantulan permukaan air laut. Sedangkan permukaan gelap pada punggungnya juga menyamarkan penguin dari pandangan hewan pemangsa di atas air.
Penguin mampu berenang dengan kecepatan 6 hingga 12 km/jam bahkan pernah tercatat hingga 27km/jam. Penguin yang berukuran kecil biasanya menyelam selama satu hingga dua menit dari permukaan air untuk menangkap makanan. Penguin yang berukuran lebih besar, yaitu penguin emperor bisa menyelam lebih dalam hingga 565 meter selama 20 menit.

Berjalan dan meluncur

Untuk menghemat energi, kadang-kadang penguin berjalan dengan kaki pendeknya atau meluncur di salju dengan perutnya.

Kemampuan penginderaan

Penguin memiliki pendengaran yang amat baik. Jika berada di daratan, penguin amat mengandalkan pendengarannya. Mata penguin beradaptasi untuk penglihatan bawah air dalam mencari makanan dan menghindar dari pemangsa. Kemampuan daya penciuman penguin hingga saat ini masih belum banyak diketahui dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Jenis kelamin

Untuk melihat jenis kelamin penguin sangat sulit, karena penguin tidak memiliki kelamin eksternal. Akibatnya untuk membedakan jenis kelamin penguin, manusia harus memakai teknik pemeriksaan kromosom/DNA

Jenis-jenis penguin

  • Penguin Raja, Aptenodytes patagonicus
  • Penguin Kaisar, Aptenodytes forsteri
  • Penguin Gentoo, Pygoscelis papua
  • Penguin Adelie, Pygoscelis adeliae
  • Penguin Chinstrap, Pygoscelis antarctica
  • Penguin Rockhopper, Eudyptes chrysocome
  • Penguin Fiordland, Eudyptes pachyrhynchus
  • Penguin Snares, Eudyptes robustus
  • Penguin Royal, Eudyptes schlegeli
  • Penguin Erect-Crested, Eudyptes sclateri
  • Penguin Makaroni, Eudyptes chrysolophus
  • Penguin Mata Kuning, Megadyptes antipodes
  • Penguin Kecil (Penguin Biru atau Penguin Peri), Eudyptula minorrr
  • Penguin White Flippered, Eudyptula albosignata
  • Penguin Afrika (Penguin Jackass), Spheniscus demersus
  • Penguin Magellanic, Spheniscus magellanicus
  • Penguin Humboldt, Spheniscus humboldti
  • Penguin Galapagos, Spheniscus mendiculus
.


sumber : wikipedia.org


Read more »
Beranda

Popular Posts

  • Mangga Kasutri
    Mangga kasturi Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Filum: Tracheophyta Kelas: Magnoliopsida (tidak termasuk) Ro...
  • Kacang
    Kacang adalah istilah non-botani yang biasa dipakai untuk menyebut biji sejumlah tumbuhan polong-polongan (namun tidak semua). Dalam perc...
  • Apel
    Apel Pohon apel ( Malus domestica ) Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsid...
  • Fauna
    Fauna , dari bahasa Latin, atau alam hewan artinya adalah khazanah segala macam jenis hewan yang hidup di bagian tertentu atau periode tert...
  • Rusa bawean
    Rusa bawean Seekor rusa bawean jantan dewasa di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Status konservasi Kritis  (IUCN 3.1) Kl...

Kategori

  • Animalia
  • Apel
  • Apokat
  • Belimbing
  • Buah-buahan
  • Burung
  • Cermai
  • Delima
  • Durian
  • Fauna
  • Flora
  • Gayam
  • Jagung
  • Jamblang
  • Jambu
  • Jeruk
  • Kacang
  • Kawista
  • Kemang
  • Mammalia
  • Mangga
  • Mangga Kasutri
  • News
  • Owa Jawa
  • Penguin
  • Rusa

Followers

 
Copyright © 2014 Dunia Flora dan Fauna | Powered by Blogger
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls